Aku Wanita Yang Dipoligami

Aku Wanita Yang Dipoligami

Rp 30.000

Beli

BFM-002

Kisah nyata duka cinta poligami

Lengkapnya

Silakan Hubungi Kami

Rumaisha Info 1 : Offline

OFF

Telepon/SMS:

+628119200910/+622130574875

+628119200910

2227176F

Aku Wanita Yang Dipoligami

Buku yang berisi belasan kisah nyata dari orang-orang yang dikenal oleh penulis buku ini menyadarkan kita bahwa poligami memiliki kisah-kisah unik. Kisah-kisah ini sebagian dituturkan oleh si suami, sebagian oleh istri pertama, ada pula kisah dari istri kedua.
Poligami akan menjadi indah dalam kehidupan berkeluarga bila dilakukan secara bertanggung jawab, proporsional, mengindahkan ajaran islam. Namun bila dilakukan serampangan, nyaris tak mengindahkan aturan syariat, mengabaikan prinsip maslahat, maka segala kericuhan dan prahara bisa menanti di depan sana.
Mari, luangkan waktu sejenak mengikuti kisah demi kisah. Insyaallah kita akan semakin secara sadar, bahwa dengan atau tanpa poligami, selama rumah tangga itu kita jalani dengan aturan Yang Maha Kuasa pasti ujung dari segalanya adalah kebahagiaan jiwa.

 

Berikut ini cuplikan dari salah satu kisah dalam buku ini:
****************
“Aku harus berpoligami. Harus, tidak boleh tidak.” Suamiku berkata dengan nada suara keras dan tegas. Itu sudah sering diungkapkan oleh suamiku, setidaknya satu bulan terakhir ini.
Kami menikah saat usia kami sama-sama 26 tahun. Kami mengaji di majelis ilmu yang sama, lalu di antara kami ada ketertarikan, kamipun menikah. Saat menikah, suamiku belum memiliki pekerjaan. Bahkan untuk mengontrak rumahpun, kami mendapat bantuan keuangan dari keluarga besar kami.
Setelah menikah, suamiku berusaha mencari pekerjaan ke sana ke mari, namun tak juga beroleh pekerjaan. Suamiku berusaha untuk berjualan, mengikuti temannya. Tapi, tampaknya ia tak berbakat di dunia bisnis. Berkali-kali ia ikut berjualan, selalu saja mengecewakan orang lain. Akhirnya, kami banyak hidup dari belas kasihan orang lain. Uniknya, suamiku seolah-olah tak merasa bersalah sama sekali. Menjalani hidup rumah tangga seperti itu, selain menyebalkan, juga menebalkan mukaku.
Setelah satu tahun kami menjalani pernikahan, suamiku memperoleh pekerjaan. Meski jauh dari yang dimaui oleh suamiku, kami menerima tawaran itu dengan suka cita. Minimal, kami memiliki penghasilan bulanan, meski jumlahnya tidak seberapa. Dari situ, kami mulai bisa makan dari keringat kami, di rumah kami sendiri. Ya, setelah satu tahun lebih kami menikah. Tentu saja, hidup kami masih sangat kekurangan. Jangankan berpikir untuk bisa membeli pakaian atau peralatan rumah tangga. Sekadar untuk makan tanpa meminta kepada orang lain saja, itu sudah lumayan. Dan aku sangat menyukurinya.
Tapi, datang pula hal lain yang merisaukan hatiku.
Suamiku sedang berhasrat kuat untuk berpoligami. Kebetulan, di pengajian, ustadz kami sering membahas soal poligami. Dari berbagai penjelasannya, suamiku memahami bahwa poligami itu adalah sunnah. Intinya, bahwa setiap muslim disunnahkan untuk berpoligami. “Orang yang tidak berpoligami, itu pengecut,” ujar Ustadz kami. Simak saja firman Allah, “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya….” (An-Nisaa : 3)
Nah, seorang muslim yang gak berpoligami, berarti ia penakut…”
Ungkapan itu disampaikan dengan canda, tapi ditanggapi begitu serius oleh jama’ah pengajian. Terutama kaum prianya. Berderai tawa mereka mendengar ungkapan Ustadz kami tadi. Banyak anggapan beredar bahwa poligami itu memang disunnahkan secara khusus, sehingga setiap mereka berjuang keras untuk bisa berpoligami, tanpa memerhatikan kemampuan, tanpa mencermati situasi dan kondisi. Bahkan mengabaikan sama sekali pendapat dan kondisi isterinya!!!
Itulah yang terjadi di lingkungan pengajian kami. Kalaupun ada Ustadz-ustadz lain yang memberi penjelasan poligami secara lebih komprehensif, malah justru kurang diminati dan ditanggapi secara layak. Sehingga, sebagai akibatnya, kebanyakan hadirin terprovokasi untuk berlomba-lomba berpoligami, termasuk suamiku.
“Aku harus berpoligami. Harus, tidak boleh tidak.” Itu yang kini sering diucapkan suamiku.
Selama hampir satu bulan, suamiku selalu membicarakan soal poligami. Yang lebih membuatku tak nyaman, seringkali ‘Ustadz’ mampir ke rumah kami, mengobrolkan soal keinginan suamiku berpoligami. Mereka seolah-olah tak lagi memedulikan perasaanku sebagai wanita. Mereka begitu nyamannya mengobrolkan poligami, seolah-olah aku tak ada di dekat mereka!!
Akhirnya, suamiku ditawari oleh Ustadz tadi seorang muslimah. Mereka berdua setuju untuk menikah, dan kedua orang tua si gadis juga merestuinya.
Meski mereka pun tahu, kondisi perekonomian kami mpot-empotan. Singkat kata, pernikahan dengan istri kedua dilakukan. Sama dengan saat menikah denganku, akad dilakukan secara sederhana saja. Dan lagu lamapun mendendang kembali. Untuk mengontrak rumahpun, suamiku harus pinjam sama pinjam sini. Aku sangat mengkhawatirkan kehidupan kami. Kami masih hidup serba kekurangan, apalagi dengan dua orang isteri? Aku bingung dibuatnya. Tapi, alhamdulillah, antara aku dan maduku, tak terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Kami bisa saling memahami, berusaha membangun saling pengertian. Kami juga saling mengunjungi, hampir setiap hari. Kadang kami masak bersama, dan melakukan segala hal bersama.
Seiring berjalannya waktu, di tempatnya bekerja, suamiku sering mendapat teguran karena sering mangkir. Bila ditanya, alasannya sedang tidak fokus, bingung memikirkan keluarga. Tapi kenyataannya, setiap kali tidak mengajar, suamiku hanya tidur-tiduran di rumah saja. Padahal, gaji bulanan selalu dibayar penuh tepat waktu. Dan, yang kukhawatirkan terjadi juga. Boss tempat bekerja memecat suamiku. Meski itu dilakukan dengan bahasa yang santun, melalu surat resmi dan juga secara langsung di hadapan suamiku, tapi tetap saja kami terperanjat. Aku dan maduku juga semakin ketar-ketir.
Kini suamiku sering banyak mengobrol dengan teman-temannya, membicarakan rencana bisnis yang tak pernah kesampaian. Aku tahu, suamiku bukan tak mau berusaha. Tapi ia terlalu idealis. Seringkali ia mengungkapkan konsepnya yang melambung-lambung soal bisnis, tapi di areal yang sangat sulit kami jangkau dengan kemampuan kami sekarang ini. Sehingga, dari hari ke hari ia tak juga menggeluti bisnis apapun. Padahal, kebutuhan kami kian hari juga kian bertambah.
Bayangkan saja, anakku kini sudah berusia 2 tahun lebih. Kebutuhannya sudah makin banyak. Maduku sekarang juga sedang mengandung. Ia juga butuh makanan yang lebih layak. Sementara, penghasilan suamiku satu-satunya yang begitu kami harapkan –meski jauh dari mencukupi—kini melayang sudah. Pikiran kami kalut. Anehnya, suamiku terlihat biasa-biasa saja. “Insya Allah, ada rezki dari arah yang tidak disangka-sangka…” suamiku beralasan lagi.
Satu tahun sudah, semenjak dipecat dari pekrjaannya, suamiku berlari dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Tapi, ujungnya nyaris sama: kalau tidak diberhentikan karena malas, berhenti tanpa sebab yang jelas. Ia nyaris tak pernah menggubris usul-usul kami. Termasuk, kembali lagi ke tempat kerjanya dulu, yang dengan tangan terbuka masih mau menerimanya kembali, asal ia bisa disiplin. Kami pernah memberi usul, bagaimana kalau aku yang bekerja? Suamiku malah marah luar biasa. Maduku memberi usul untuk membuat kue, dan ditawarkan ke warung-warung. Suamiku juga
menolak. “Wanita, lebih baik di rumah saja…” Kami kembali terbungkam.
Maduku kini sudah dikaruniai seorang anak lelaki manis, berusia 4 bulan. Anakku sendiri sudah berusia 3 tahun. Kehidupan kami kembang kempis tak karuan. Kami sering bertemu, dan saling mengeluhkan kondisi kami. Kami tahu, mungkin tak pantas kami berkeluhkesah seperti ini. Tapi, ini realitas yang tak dapat kami pungkiri. Suami kami terbukti tak mampu menghidupi kami secara layak, dan tak terlihat gigih mencari rezki demi penghidupan kami. Aku, maupun maduku, pernah sesekali berinisiatif untuk mundur. Maksudku, biarlah aku memilih pisah dari suamiku. Tapi maduku justru menawarkan hal yang sama, biar dia saja yang bercerai dari suamiku, agar aku bisa hidup layak bersamanya. Tentu saja aku tak mengijinkannya. Lama bergaul dengannya, di antara kami sudah terjalin tali kasih. Aku sayang kepadanya. Aku tak ingin ia menderita. Sebagaimana akupun tak ingin diriku menderita.
Tapi, para pembaca sekalian, apa yang dapat kami lakukan?
Kami ingin, semua kami berbahagia. Dan kami selalu berusaha untuk bersabar dan tabah menjalani semua ini. Tapi, sampai kapan? Kondisi kami kian hari kian memburuk saja. Meski tak kuyup prahara, tapi kami mulai merasakan gemuruh derita. Percikan-percikan kecil derita yang kian hari kian menggemuruh, dan membuat kami makin tak punya daya.
Pembaca sekalian, bukan kami menolak poligami. Tapi bila beginilah yang kami terus alami, lambat laun, wajarlah, bila kini kami mulai membencinya….
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)
Ya Allah, ampunilah aku..

********************

Ini adalah salah satu kisah pelaku poligami, dalam buku ini disebutkan 13 kisah, ada yang baik dan ada yang gagal dalam pernikahan mereka. Ada yang akhirnya bercerai, akan tetapi ada juga yang dengan berpoligami malah menimbulkan keharmonisan dalam keluarga tersebut. Jadi intinya bagaimana syariat poligami tersebut dilakukan sesuai proporsinya, jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai petunjuk syariat insyaallah akan menghasilkan pernikahan yang langgeng, namun sebaliknya, bila dilakukan secara serampangan maka justru akan menimbulkan kerusakan, bahkan cobaan bagi yang lain.

Silakan menyimak…

  • ISBN 9791841542
  • Jumlah Halaman 195
  • Penerbit FATAMEDIA
  • Penulis Abu Umar Basyir
  • Ukuran 13 x 18 cm

30 Produk lainnya di kategori yang sama

Keranjang  

Kosong

Total Rp 0

Selesai

Spesial